UTUSANINDO.COM, (KALIMANTAN BARAT) – Anggota Komisi VII DPR-RI Maman Abdurrahman dan Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa melakukan kunjungan kerja ke Propinsi Kalimantan Barat dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan sektor Migas, di Kantor Gubernur provinsi Kalimantan Barat
Kamis 30/07/20).
Dikatakan Maman Abdurahman Anggota Komisi VII DPR RI pada konferensi pers meminta agar kuota BBM subsidi yang telah ditetapkan oleh BPH Migas tersebut tepat sasaran dan dapat mencukupi hingga akhir tahun
2020 dan tidak terjadi over kuota seperti pada tahun 2019 yang disampaikan oleh Kepala BPH Migas.
Menurut nya dari kuota sebesar 311.094 KL realisasinya mencapai 328.667,34 KL atau sebesar 105,13 %.
Oleh karena itu Maman meminta agar Pemerintah Daerah benar-benar ikut aktif mengawasi
penyaluran BBM subsidi tersebut agar tepat sasaran dan program digitalisasi SPBU yang saat ini sedang
dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) dengan kerjasama dengan PT. Telkom dapat digunakan secara
efektif untuk mengawasi penyaluran BBM subsidi.
Lebih lanjut Maman mengatakan, sesuai laporan yang di sampaikan oleh Kepala BPH Migas, sampai
dengan 16 Juli 2020 ini perkembangan digitalisasi SPBU yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero)
telah mencapai 49 % atau sejumlah 2.704 SPBU dari target 5.518 SPBU diseluruh Indonesia.
Sedangkan untuk Propinsi Kalimantan Barat Sendiri Dari target implementasi 126 IT Nozzle yang tersambung di
dashboard PT.Pertamina Persero baru 24 SPBU yang terealisasi (19%).
Sistem digitalisasi SPBU yang dikembangkan saat ini baru terbatas hanya untuk pencatatan volume
transaksi, nilai penjualan transaksi. Dan pencatatan nomor polisi kendaraan yang dilakukan secara
manual menggunakan EDC (electronic data capture).
“Saya harapkan program ini dapat terlaksana sampai mencapai target 100 persen, sesuai dengan janji
Pertamina dan Telkom yang disampaikan ke BPH Migas bahwa digitalisasi SPBU akan selesai seluruhnya
pada Agustus 2020 dan ke depan perlu ditingkatkan dalam kualitas digitalisasinya, seperti adanya
monitoring dengan perangkat video analytic (CCTV),” tegas Maman
Maman menemukan di lapangan bahwa apabila dilakukan pencatatan secara manual, itu menambah
pekerjaan bagi operator SPBU. Selain itu tingkat kelelahan yang bertambah akan berdampak juga
terhadap kualitas kinerjanya. Maman berpendapat digitalisasi SPBU amat penting.
Untuk itu menurut nya mutlak diperlukan sistem pencatatan dengan menggunakan CCTV yang berlangsung secara otomatis dan real time, dapat dipantau secara terus-menerus.
(TOM)





