Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Setelah Bencana Hidrometeorologi di Tengah Tekanan Inflasi

UtusanIndo.com, Padang- Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohammad Abdul Majid Ikram mengatakan, tantangan pertumbuhan ekonomi Sumbar setelah bencana hidrometeorologi di tengah tekanan inflasi. Akselerasi pemulihan ekonomi pascabencana menjadi penting untuk memastikan roda ekonomi dan aktivitas sektor riil dapat berjalan.

“Di sisi lain,terdapat tekanan inflasi baik dari global maupun domestik yang perlu diwaspadai,” ujar M Abdul Majid Ikram saat Dialog Ekonomi tentang Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumbar 2026 di Aula Bank Indonesia Sumbar, Senin, 19 Januari 2026.

Menurut Abdul Majid Ikram, Risiko cuaca ekstrem menekan produksi komoditas pangan di tengah kuatnya
permintaan domestik berisiko
meningkatkan harga
komoditas, terutama pada
momentum HBKN.

“Meningkatnya tensi geopolitik serta
ketidakpastian global mendorong
kenaikan harga emas global lebih
tinggi dan meningkatkan inflasi inti,” ujar Abdul Majid Ikram

Lanjut Abdul Majid Ikram, Sekitar 25 ribu kursi penerbangan ke Sumatera Barat setiap bulan belum termanfaatkan & berpotensi diisi wisatawan mancanegara dan nusantara.

“Optimalisasi ini dapat memberikan tambahan nilai ekonomi sebesar Rp87,6 Miliar per bulan atau Rp1,05 Triliun per tahun, sehingga diperlukan strategi untuk menarik lebih banyak wisman,” ujar Abdul Majid

Yuliadi Chandra WU

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *