UTUSANINDO.COM,(SRAGEN)- Anggota DPR RI Komisi IV, Agustina Wilujeng Pramestuti di sela penyerapan aspirasi masyarakat (Asmas) di salah satu hotel di Sragen, Senin (12/12/2016) mengatakan, secara umum program asuransi pertanian sebenarnya berhasil. Hanya saja sejauh ini cakupannya jauh lebih kecil dibanding dengan lahan yang ada. Dari 15 juta lahan pertanian, selama ini hanya tergarap kuota 20 ribu hektare yang diasuransikan.
Hal ini terjadi lantaran para petani masih terkendala prosedur, di mana urusan asuransi yang seharusnya mudah menjadi sulit. Bencana banjir di Sragen lalu dharapkan menyadarkan petani untuk ikut program asuransi pertanian. “Asuransi pertanian memang sangat diperlukan, terutama bagi petani yang dilanda banjir. Tapi dilihat sistemnya memang masih harus diperbaiki. Tahun kemarin, dari lahan 15 juta hektare, hanya terkaver asuransi 20 ribu hektare,” ujar Agustina.
Menurut Agustina, penerima program asuransi tidak sebanding dengan kondisi saat ini. Anggaran untuk asuransi dan jumlah petani serta luas lahan di Indonesia juga tidak sinkron. Seharusnya jika memang berniat melindungi petani, maka seluruh lahan pertanian mendapatkan hak asuransi tersebut. “Jika ada campur tangan pemerintah, seolah-olah menjadi lebih ribet. Seharusnya pencairan klaim bisa cepat, tapi nyatanya masih lama,” jelasnya.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian Sragen, Eka Rini Mumpuni mengatakan, ada upaya untuk mengajak petani di Sragen mendaftarkan program asuransi pertanian. Pihaknya menyampaikan program tersebut sampai saat ini masih belum familiar. Namun dengan adanya banjir yang lalu, membuat asuransi dirasa bermanfaat bagi petani. “Masyarakat yang belum familiar dengan asuransi perlu pemahaman edukasi sehingga para petani bisa menerima kebijakan pemerintah tersebut,” tandasnya.
Eka mengakui, pihaknya telah mengajukan 10 ribu hektare untuk diikutkan asuransi pertanian pada PT Jasindo sebagai pihak pengelola. Nantinya petani yang didaftarkan bakal dibantu dengan subsidi dari pemerintah. Namun sampai saat ini belum ada jawaban dari pihak Jasindo. Sebagai informasi, akibat luapan banjir lalu, 2.700 hektare sawah terendam, khususnya yang berada di aliran Sungai Bengawan Solo meliputi 11 kecamatan. Selain itu kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai Rp3 miliar. (KRG)





