UTUSANINDO.COM,(PADANG) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyayangkan sikap atlet angkat berat, Sandra Diana Sari, yang turun ke jalan meminta uang receh. Hal itu dinilai KONI Sumbar tidak bagus dan merugikan atlet sendiri.
“Sandra adalah atlet potensial Sumbar dan pernah mendapatkan pembinaan dari KONI. Terakhir dia sukses mendapatkan emas di Kejuaraan Asia baru-baru ini untuk tingkat yunior. Saya heran kenapa dia sekarang berbuat begitu. Apakah dia sadar hal itu bisa merugikan diri sendiri,” kata Ketua KONI Sumbar Syaiful saat jumpa pers di Media Center Humas Setdaprov Sumbar, Jumat (12/5).
Syaiful yang datang dengan Sekum Hendra Dupa, Wakil Ketua Ali Musri, Aldi Yunaldi dan Fazril Ale menyebutkan jika Sandra beralasan kecewa dengan KONI Sumbar karena tidak dibantu atau tidak diperhatikan oleh KONI, maka pendapat yang demikian tidaklah seperti yang dipahami oleh Sandra.
Syaiful menyebutkan, dalam aturan yang ada jelas bahwa apabila ada atlet yang mengikuti suatu kejuaraan, maka segala hal yang berhubungan dengan atlet ditanggung oleh KONI. Akan tetapi, ada suatu sisi KONI tidak bisa membantu atlet dari segi pendanaan bagi yang mengikuti kejuaraan, seperti hal yang dialami oleh Sandra.
“Keikutsertaan Sandra pada Kejuaraan Asia 2017 pada cabang olahraga (cabor) angkat berat itu, telah ditanggung sepenuhnya oleh PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi – Binaraga – Angkat Berat Seluruh Indonesia). Secara aturannya, jika sudah ditanggung oleh pihak yang menyelenggarakannya seperti PB PABBSI, maka KONI tidak bisa ikut membantu seperti dana transportasi,” jelasnya.
Tidak hanya itu, soal penjelasan tanggungan biaya itu, pihak KONI Sumbar juga telah menerima surat dari PB PABBSI yang menyebutkan bahwa Sandra Diana Sari masuk dalam daftar lifter untuk Kejuaraan Asia di Soreang Jawa Barat, dan biaya tiket pesawat pulang pergi kelas ekonomi, akomodasi di hotel ANTIK Soreang Kabupaten Bandung dan di tanggung makan mulai dari tanggal 1-5 Mei 2017.
“Jadi sudah jelas bahwa PB PABBSI lah yang menanggungnya, dan KONI tidak bisa ikut dalam hal pendanaan transpotasi makan dan yang lainnya itu. Namun untuk uang saku, kita akan tetap bantu sesuai dengan mekanismenya,” katanya.
Syaiful menjelaskan, uang saku untuk Sandra dan pelatih bisa dicairkan oleh Pengprov PABBSI Sumbar sebagai pihak yang mendapat undangan dari pusat sekaligus yang merekomendasikan pengiriman atlet. Namun Sandra bersikeras ingin langsung menerima uang tersebut, sekaligus meminta uang untuk ofisial. Hal itu tidak bisa dipenuhi oleh KONI.
Syaiful menyayangkan gerakan Sandra turun ke jalan berkoar-koar tidak pernah mendapat perhatian. Padahal, sebelum PON 2016 di Jabar, yang bersangkutan mendapat uang pembinaan dari KONI Sumbar. Meski akhirnya gagal meraih emas, Sandra direncanakan tetap menjadi atlet binaan KONI karena prestasinya di Kejuaraan Asia.
“Sandra masuk radar kami sebagai atlet binaan. Anggaran pembinaan telah disiapkan melalui APBD perubahan. Sayang sekali tindakannya sangat tidak tepat, sehingga mencoreng nama olahraga Sumbar di mata nasional. Meski begitu kami tetap membuka pintu untuk Sandra, semua kami serahkan pada Pengprov PABBSI Sumbar untuk membinanya,” bebernya.
Syaiful berharap, Sandra tidak melanjutkan tindakan konyol meminta recehan dari masyarakat dengan alasan untuk latihan. Jika hal itu terus dilakukan, dikhawatirkan karir Sandra yang akan hancur, karena perbuatannya mencoreng olahraga Sumbar, sehingga memungkinkan organisasi mencoret namanya untuk diusulkan sebagai atlet berprestasi.
“Sumbangan dari masyarakat sudah berapa yang ia terima. Perantau dan beberapa pihak sudah membantu mencapai Rp6 juta lebih. Apakah itu nanti untuk Sandra? Sandra hanya jadi korban,” tuturnya.
Untuk diketahui, selama dua hari ini, Sandra bersama rekannya di klub dan ofisialnya Yal Aziz turun ke jalan membawa kotak bertuliskan meminta recehan untuk latihan.(Metrand)





