Untuk kelancaran Masyarakat perlu jalan Tol, AIR juga perlu jalan Tol, that’s logic (logis). Jangan lupa bahwa pengusaha butuh jalan TOL juga, agar semua berjalan lancar dan mengikuti arus jalannya.
Pengusaha selalu berpikir What to do earning “money”(cara mendapatkan uang) dalam bencana ini bisa jadi mereka berandai-anda; paska bencana, opportunity (kesempatan) apa yang bisa memperbaiki ekonomi pengusaha Kota Padang khususnya, Sumbar umunnya. Lagian mengurangi biaya (efisiensi) yang dikeluarkan pemerintah, sebaliknya menjadi income pemerintah.
Dua sungai yang “menghantam” pemukiman di sekitaran; Batang Kuranji/Batu Busuk & Lubuk Minturun, logically ( logis) dan technologically (teknis) tak satupun mampu “menutup” alur derasnya AIR. Ini clear – undisputeable (tak terbantahkan)
Pandangan pengusaha yang awam, timbul pemikiran; apakah pelebaran dan pendalaman kedua sungai tersebut “mungkin” bisa diserahkan kepada pengusaha lokal yang punya kompetensi untuk mendapatkan izin ekploitasi untuk memperlebar dan memperdalam Kedua Sungai tersebut ?, walau terlarang mengambil batu, pasir di sungai.
Rumitkah, memberikan Hak Penguasaan eksploitasi kepada beberapa pengusaha untuk mengambil batu, pasir, kerikil; menjadikan sumber ekonomi bagi pengusaha lokal dalam batasan waktu tertentu ?
Takkan rumit, barangkali, kalau tersedia jalan TOL bagi pengusaha lokal. “Samo-samo” dapek pitih” (sama-sama mendapat uang), perlu kolaborasi dengan Lingkungan Hidup dengan dunia usaha; No Illegal Mining.
Setidak-tidaknya bisa 3 – 4 pengusaha tambang memasang stone crasher di sepanjang pinggir sungai. Win – win solution kata pengusaha; akan banyak yang terlibat bekerja dalam izin eksploitasi itu. Siapa
“sata” (ikut) ?
CipotongAlai





