Selamat kepada para pemimpin terpilih di Sumatera Barat dalam menjalankan amanahnya untuk 5 tahun ke depan, yang lebih menantang untuk Sumatera Barat yang lebih baik.
Tolak ukur salah satu kesuksesan para pemimpin sebagai kepala daerah akan sangat positif apabila para kepala daerah dapat menyelesaikan masalah sampah di daerahnya, lingkungannya sendiri.
Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial dan membutuhkan perhatian serius baik dari pihak pemerintah maupun warga sekitar, karena sampai saat ini sampah masih menjadi persoalan diberbagai Kota/Kabupaten di Sumatera Barat yang diduga menemui kegagalan dalam hal penanganannya.
Tudingan terhadap masyarakat yang dianggap tak patuh dalam “membuang” dan mengelola sampah rumah tangganya bisa jadi tidak tepat dengan berbagai alasan dan kondisi tertentu.
Sepertinya pemerintah tak bisa lagi membebaskan daerahnya dari sampah yang berserakan melalui himbauan-himbaun, “ngajak” masyarakat, komunitas, atau siswa/mahasiswa, dll untuk bersih-bersih ditempat tertentu yang dikemudian hari timbul lagi tumpukan sampah dan himbauan lagi untuk “ngumpul-ngumpul” sampah, seolah-olah pemimpinnya kurang kerjaan “gitu lho”.
Dengan kepemimpin masa bakti 2025-2030 sudah selayaknya para pemimpin mencari solusi untuk menyelesaikan persampahan di daerah yang belum terselesaikan dengan baik. Pemerintah diharapkan “turun tangan” melakukan Intergrated Waste Management; pengelolaan sampah secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan konsep “No-More-Sampah” berserakan at anywhere; tak adalagi sampah ditemukan selain pada tempatnya.
Integrated Waste Management (IWM) butuh investasi fasilitas pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Investasi Fasilitas ini bertujuan untuk menciptakan kawasan bebas sampah yang berkelanjutan. Pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari tahap pemilihan hingga menghasilkan produk akhir (hilirisasi) yang memiliki nilai ekonomi dan lingkungan yang hijau. Bisakah ini dilakukan ? Ya, bisalah, tergantung kemauan.
Misalnya kota Padang, diperkirakan memiliki lebih kurang 200.000 rumah tangga akan menghasilkan sampah sekitar 650 metric ton perhari, tak bisa dianggap “sepele” dalam pengelolaanya. Saat ini kota Padang sudah mulai menarik restribusi sampah lebih kurang Rp. 25.000,- per rumah (kalikan saja) dan belum termasuk restribusi untuk hotel, food-court, restoran, cafe dan yang lainnya yang lebih besar restribusinya; yang diperkirakan miliaran rupiah per bulan “income” dalam mengelolaan sampai ke penumpukan sampah,
Dengan melakukan investasi fasilitas untuk pengelolaan sampah menjadi bahan yang mempunyai nilai eekonomis akan membuat kota Padang lebih bersih, sehingga akan mampu meningkatkan investasi dan kunjungan pariwisata ke kota Padang. Disamping itu, Integrated Waste Management yang dikelola oleh pemerintah akan memberikan pendidikan kepada masyarakat bahwa setiap sampah yang dihasilkan akan menjadi sumber energi melalui proses hilirisasi dan menguntungkan berbagai pihak. Buruknya pengelolaan sampah disuatu daerah, akibat dari kurangnya kepedulian pemerintah terhadap penangan sampah; sampah bisa menimbulkan banjir karena selokan menjadi tertutup akibat sampah yang berserakan, kota akan menjadi busuk akibat polusi sampah dengan bau yang tak sedap, dan akan mengganggu kesehatan masyarakat, sungai akan lebih jernih dan kota akan menjadi “green city” yang akan mengharumkan nama kota dan menjadi daya tarik bagi banyak pihak. Malalui Waste Management yang dapat mengelola sampah menjadi enegi atau pupuk misalnya; akan memberikan pendidikan kepada masyarakat bahwa persoalan sampah adalah persoalan kita semua dan pemerintah kabupaten/kota sebagai “leader” dalam penangan sampah di daerahnya masing-masing.
#CipotongAlay





