UTUSANINDO.COM,(JAKARTA)- Politikus perempuan Partai Nasional Demokrat, Irma Suryani Chaniago, menegaskan, bahwa Imigrasi di Kementerian Pariwisata dan Kementerian Tenaga Kerja sudah tidak boleh lagi bekerja biasa biasa saja. Sudah harus bekerja luar biasa keras.
“Kebijakan bebas visa harus seiring dengan Sumder Daya Manusia kontrol yang memadai. Ketiga institusi ini wajib berkoordinasi terkait wisatawan yang masuk berapa orang dan yang keluar berapa orang,” ujar Irma, Senin (12/12/2016).
Anggota Komisi IX DPR itu, meminta agar pemerintah lebih selektif dalam pengawasan tenaga kerja asing, khususnya asal Tiongkok yang bekerja di Indonesia.
Saat ini banyak ditemukan kasus-kasus yang dapat mengancam kepentingan nasional, misalnya penemuan bibit sayuran dari Tiongkok yang mengandung bakteri. Selain itu, para TKA dari Tiongkok juga telah menanam benih sayuran yang mengandung bakteri di daerah Bogor, Jawa Barat,” kata Irma.
Lanjut Ketua DPP Partai NasDem itu pemerintah diminta untuk lebih gencar melakukan sosialisasi terhadap warga yang mengetahui keberadaan wisatawan, khususnya dari Tiongkok yang tiba-tiba menetap bahkan sewa atau beli tanah. Pasalnya, wajah mereka sulit dibedakan dengan imigran Tiongkok keturunan di Indonesia, papar Irma.
“Masyarakat harus lapor kepada pihak yang berwajib jika mengetahui ada WNA yang bekerja di Indonesia tanpa surat izin resmi atau tidak memiliki IMTA (Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing),” tandasnya.
Sebelumnya, Pusat Karantina melakukan pemusnahan dua kilogram benih cabai, 5.000 batang tanaman cabai dan satu kilogram benih bawang daun dan sawi hijau dilakukan dengan cara membakar dengan incinerator di Instalasi Karantina Hewan Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta.
Pihak Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin, menyebutkan Kantor Imigrasi telah kecolongan atas kegiatan berbahaya tersebut. Mengingat bibit dan tanaman itu membawa bakteri yang belum pernah ada di Indonesia dan belum bisa diberikan perlakuan apapun terhadap tanaman yang terindikasi tersebut.
“Kalau saya bilang ini imigrasi kebobolan. Seharusnya kalau sudah lewat masanya kok belum balik ya dicari-cari dong,” kata Antarjo di Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Kamis (8/12/2016). (nN)





